• Selamat Datang di Website Resmi Universitas Warmadewa - Bermutu, Berintegrasi dan Berwawasan Lingkungan Kepariwisataan - Jalan Terompong 24 Tanjung Bungkak, Denpasar, Bali, Indonesia - Email : info@warmadewa.ac.id - Telp. 0361-223858 - Fax. 0361-235073

Pemeringkatan Perguruan Tinggi: Rujukan Pembinaan Yang Terus Disempurnakan

  • 12 Agustus 2017
  • 52 Pengunjung
Pemeringkatan Perguruan Tinggi: Rujukan Pembinaan Yang Terus Disempurnakan

Sejak dirumuskan pada tahun 2013, instrumen pemeringkatan perguruan tinggi mengalami sejumlah pergeseran dan perubahan. Banyak yang belum paham terhadap produk Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) yang menjadi pijakan pembinaan ini.

Menurut Kepala Subdirektorat Kerja Sama Perguruan Tinggi R Purwanto Subroto, semula pemeringkatan bukan untuk memeringkatkan perguruan tinggi. “Awalnya untuk pembinaan. Direktorat Jenderal Pendidikan Dikti (kala itu) hendak memotret kondisi yang sesungguhnya perguruan dibandingkan dengan kondisi ideal. Maka, dibuatlah instrumen untuk diisi perguruan tinggi,” ungkapnya dalam sebuah diskusi terbatas di Makassar.

Pada tahun-tahun berikutnya, digunakan data dari perguruan tinggi. “Kita manfaatkan data yang sudah secara sistem dilakukan oleh perguruan tinggi, sehingga dari sisi data kita tidak kesulitan, dan itu bermanfaat juga bagi instansi-instansi terkait,” katanya.

Tahun 2015, tim menyepakati unsur pemeringkatan sejalan dengan unsur dikti sebagaimana terlihat pada direktorat yang dimiliki. Kala itu, Dirjen Pendidikan Tinggi punya empat direktorat, yakni kelembagaan, kemahasiswaan, penelitian, dan sumber daya. “Dari empat direktorat itulah kita lihat variabel yang bisa mencerminkan kondisi di tiap-tiap direktorat. Diihatlah kondisi di perguruan tinggi dalam pengertian data yang kita gunakan itu mencerminkan apa yang ada di direktorat tersebut.

Atas dasar itu, muncullah empat besaran yakni, dari sisi sumber daya dilihatlah sisi kecukupan dosen, dari sisi kelembagaan dilihatlah sisi manajemen, dan dari sisi kemahasiswaan dilihat kualitas kegiatan kemahasiswaan, sedangkan dari penelitian dilihatlah penelitiannya.

Tahun 2015 hasil pemeringkatan diumumkan, sehingga semua perguruan tinggi bisa mengakses dan melihat satu sama lain. Masukan pun berdatangan. Masukan itu menjadi salah satu pertimbangan untuk mengubah beberapa variabel pada pemeringkatan tahun 2016. Terutama menyangkut rasio dosen dengan mahasiswa.

Kelembagaan waktu itu diberi nama kualitas manajemen. Lewat manajemen diharapkan banyak unsur bisa dimasukkan, dan saat itu yang siap menyerap data BAN-PT. Maka digunakanlah akreditasi. “Sempat ada komplain dari perguruan tinggi bahwa kalau cuma dilihat dari akreditasi, kenapa dinamai manajemen. Tahun 2016, variabel itu pun diubah namanya menjadi akreditasi. Laporan kerja sama juga dimasukkan ke dalam bagian kelembagaan,” ungkapnya.

Pemeringkatan 2017

Bagaimana dengan pemeringkatan 2017? Berdasarkan pembicaraan dengan BAN-PT, ada perubahan untuk 2017. Jika sebelumnya akreditasi institusi hanya merujuk pada A, B, dan C, kini ada perhitungan seperti nilai A dan A minus.

Nilai A dan A minus yang dihitung oleh BAN-PT akan memberikan skor yang lebih valid. “Namun kita masih menunggu pertemuan lagi, apakah BAN-PT siap dengan datanya yang kemarin dan memberikan kepada kami data skor. Contohnya perguruan tinggi A nilainya 250 dan perguruan tinggi B nilainya 249. Walaupun sama-sama A, beda skornya.”

Untuk kemahasiswaan, tahun 2015 yang digunakan data di Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa). “Jadi, hanya data perguruan tinggi yang mengikuti lomba-lomba yang diadakan Kemenristekdikti, yaitu timnas dan sejenisnya serta lomba internasional yang diadakan Kemenristekdikti.”

Ternyata pola itu mengundang banyak komplain, terutama dari wakil rektor bidang kemahasiswaan. Dikemukakan, kenapa waktu mereka mengakses ke aplikasi, nilainya 0. Memang, kelembagaan tidak mengumpulkan data dari sisi sistem. Jadi, itu tugas di tiap-tiap dirjen di Kemenristekdikti.

Tahun 2016 Ditjen Belmawa sudah mulai menyiapkan aplikasi untuk melaporkan kegiatan kemahasiswaan. “Tahun itu pula ditambahkan prestasi mahasiswa program Kemenristekdikti dan prestasi mahasiswa program non-Kemenristekdikti. Kegiatan kemahasiswaan tingkat nasional maupun internasional yang bukan kegiatan Kemenristekdikti dilaporkan ke Dirjen Belmawa melalui aplikasi mereka.”

Adapun mengenai kualitas dosen, tim menggunakan data pada Pangkala Data Dikti (PD Dikti). Apa pun kondisi data di PD Dikti, itu yang digunakan. “Makanya dalam surat disampaikan, kami akan menggunakan data misalkan per Mei 2017, sehingga perguruan tinggi yang merasa data PD Diktinya belum di-update, itu ada kesempatan untuk meng-update sampai tanggal tersebut. Sebab, setelah itu kita tutup dan data yang ada kita gunakan dan manfaatkan sebagai referensi untuk menghitung variabel ini.”

Untuk penelitian, dimanfaatkan sistem yang sudah digunakan di penelitian. Sudah sistem pemeringkatan penelitian yang dikeluarkan per dua tahun sekali. “Itu yang kita gunakan. Jadi apa pun kondisinya, itu yang kita gunakan plus data publikasi yang dimiliki perguruan tinggi tersebut. Di tim, kita punya personel yang bisa mengakses Scopus.”

Dari sisi pembobotan, sepanjang 2015-2016 tidak ada perubahan. Sumber daya tetap 30%, akreditasi 30%, kegiatan kemahasiswaan 10%, dan penelitian 30%. “Ada permintaan dari kemahasiswaan untuk menaikkan persentasenya lebih dari 10%. Toh tahun 2016 variabel yang digunakan di kemahasiswaan sudah lumayan bagus, yakni sudah meng-cover data Kemenristekdikti dan non-Kemenristekdikti meski baru 200 dari 3.000 perguruan tinggi yang melaporkan ataupun bisa direkam oleh Ditjen Belmawa. Itulah kenapa tetap pada posisi 10%, karena kalau besar akan bias perguruan tinggi yang tidak punya akses maupun tidak tercatat oleh Belmawa.”

Meski demikian, dibandingkan dengan 2015, tahun 2016 terjadi penambahan cluster 1 dengan menggunakan aplikasi statistik yang bersifat otomatis. “Memang ada perguruan tinggi yang secara faktual sangat baik, namun karena datanya tidak baik, jadilah peringkatnya berbeda jauh dari kondisi riil. Maka kalau ingin baik dalam pemeringkatan ini, harus peduli terhadap data pada Pangkalan Data Dikti,” katanya mengingatkan.

Dengan lima cluster, memang pengkategorian perguruan tinggi di negeri ini lebih tercerminkan. “Namun yang membuat miris, dari 3.000-an perguruan tinggi kita, pada tahun 2016 sebagian besar masuk cluster 4 dan 5. Yang bercokol di cluster 1, 2, dan 3 hanya 750.  Kedua, kalau melihat total skor yang ada, yakni pemeringkatan ini menggunakan 0 sampai 4, tampak betapa nilai di tiap-tiap komponen nilai kemahasiswaan dan nilai penelitian sangat rendah.  Yang masuk di cluster 3 nilainya di bawah 1, bahkan cluster 2 pun tidak mencapai angka 2. Jadi, sebenarnya yang masuk cluster 1, 2, dan 3 masih lumayan dari sisi SDM, tapi dari sisi output masih sangat kurang.”

  • 12 Agustus 2017
  • 52 Pengunjung

Lainnya

Pencarian