• Selamat Datang di Website Resmi Universitas Warmadewa - Bermutu, Berintegrasi dan Berwawasan Lingkungan Kepariwisataan - Jalan Terompong 24 Tanjung Bungkak, Denpasar, Bali, Indonesia - Email : info@warmadewa.ac.id - Telp. 0361-223858 - Fax. 0361-235073

Bermutu, Berintegritas dan Berwawasan Lingkungan

  • 13 Januari 2015
  • Dibaca: 2394 Pengunjung
Bermutu, Berintegritas dan Berwawasan Lingkungan

BERMUTU, BERINTEGRITAS DAN BERWAWASAN LINGKUNGAN

(Bagian Terakhir dari dua Tulisan)

 

                                                                                                                                            Oleh:                                                                                                                                       

 I Wayan Gede Suacana (Kepala LPM)

Universitas Warmadewa (Unwar) menempatkan persoalan lingkungan sebagai pusat perhatian dan subyek dalam pola ilmiah pokok (PIP)-nya. Dalam upaya menjabarkan PIP-nya itu, nilai-nilai filsafat dalam  Tri Hita Karana yang meliputi: keselarasan hubungan manusia dengan Tuhan, hubungan manusia dengan manusia, serta hubungan manusia dengan alam lingkungannya dipergunakan sebagai dasar pijak dan landasan pemikiran.

Motto Penjaminan Mutu Universitas Warmadewa adalah Bermutu, Berintegritas dan Berwawasan Lingkungan. BERMUTU: terlaksananya penjaminan mutu secara sistematis, konsisten dan berkelanjutan sesuai standar dalam dokumen mutu yang meliputi ketersediaan kebijakan akademik, standar akademik, peraturan akademik, manual mutu akademik, prosedur mutu akademik, SOP atau instruksi kerja, dan juga pembangunan manusianya. Parameternya adalah terbangunnya budaya mutu akan tampak dari perencanaan, pelaksanaan dan pengendalian proses penjaminan mutu yang berintegritas dan profesional berdasarkan visi dan misi perguruan tinggi serta terpenuhinya kebutuhan stakeholders.

BERINTEGRITAS: kelengkapan personal tidak hanya  dengan kapasitas teknis yang canggih dan ketangguhan emosi, namun juga nilai-nilai etis dan moral yang meliputi: Pertama, integritas sebagai “unity”, digunakan untuk menjelaskan kondisi kesatuan, keseluruhan, keterpaduan. Makna ini sering terdengar saat kita berbicara tentang wawasan kebangsaan. Integritas merupakan kekuatan, tidak hanya fisik tetapi juga ide. Kedua, integritas adalah “incorruptibility”, keutuhan, kebulatan, yang tak tergoyahkan, tanpa cacat. Dalam hal ini integritas berarti konsistensi, keterpaduan antara idea dengan perwujudan nyatanya. Ketiga, integritas adalah kualitas moral, sebagai “honesty”, kejujuran, ketulusan, kemurnian, kelurusan yang tak dapat dipalsukan dan bukan kepura-puraan.

BERWAWASAN LINGKUNGAN:  menghendaki adanya kesamaan pandangan bahwa dasar perencanaan dan pelaksanaan pembangunan adalah adanya kehidupan yang harmonis antara manusia dan lingkungannya. Keadaan mayoritas masyarakat yang hidup di perdesaan, setidaknya bisa merupakan sebab terjalinnya keakraban diantara keduanya didalam lingkungan sosial. Sungguh pun lingkungan sebagai suatu sistem belum banyak diimplementasikan, namun masyarakat dan budaya tertentu sudah memiliki konsep pola hidup yang serasi dengan pengutamaan keserasian, keselarasan dan keseimbangan antara manusia dengan lingkungannya.

Permasalahan lingkungan muncul ketika pertambahan jumlah penduduk demikian pesat dan berbagai kebutuhan hidup dipenuhi dengan menggunakan teknologi tinggi dengan segenap perangkatnya. Kesadaran akan hal ini, bersamaan dengan mulai bangkitnya minat pemikir dunia  menanggapi isu lingkungan gobal yang mencapai klimaksnya pada konferensi khusus PBB tentang lingkungan hidup Juni 1971 di Stockholm. Untuk kali pertama dalam sebuah pertemuan akbar isu lingkungan hidup diangkat dari bidang ilmiah ke bidang politik.

Peringatan akan masalah lingkungan selanjutnya menjadi suatu konvensi yang keberadaannya kemudian dipertegas dengan terbitnya laporan penelitian, “The Limits to Growth” yang disusun oleh tenaga-tenaga ahli dari MIT (Massachusetts Institute of Technology) untuk “Club Rome” . Penelitian ini memprediksikan mengenai pertumbuhan masa depan dalam kurun waktu 5-10 tahun dasa warsa pertama perihal pertalian kehidupan manusia dengan sumber-sumber alam yang masih tersedia dan memperingatkan bahwa pertumbuhan tersebut tidak dapat dibiarkan berlangsung terus-menerus, khususnya bagi “non renewable resources”. Oleh sebab itu dianjurkan agar kebijakan di seluruh dunia diarahkan sedemikian rupa, sehingga dapat membekukan proses pertumbuhan, yang berarti adanya “zero growth” baik dalam proses produksi maupun penduduk.

Kesadaran betapa buruknya perlakukan manusia terhadap alam, yang meliputu hutan-hutan ditebang, atmosfer dirusak, udara dan air diracuni, lahan persawahan dijadikan lapangan golf, lingkungan kehidupan mikro yang hakiki diputuskan. Akibatnya, semakin dirasakan berbagai akibatnya, seperti: bencana banjir, tanah longsor, hujan asam, punahnya hektaran hutan tropis, tanah dan air terkontaminasi, dan seterusnya. Dalam keadaan demikian akan muncul “eksternalitas ekonomi negatif” yaitu timbulnya biaya yang tidak diperhitungkan didalam perencanaan pembangunan sebelumnya.

Sudah saatnya proses kesadaran ini ditindaklanjuti dengan upaya konkrit, apalagi kalau disepakati bahwa alam bukanlah “warisan” dari generasi terdahulu, tetapi ia lebih merupakan “titipan” dari anak cucu bangsa, yang juga adalah generasi masa mendatang. Sejumlah etika sebagai refleksi sikap dan tanggung jawab terhadap lingkungan hidup setidaknya menghendaki: Pertama, belajar menghormati alam; Kedua, membatinkan perasaan akan tanggung jawab khusus  terhadap lingkungan lokal sendiri; Ketiga, bertanggung jawab terhadap kelestarian biosfer; Keempat, solidaritas dengan generasi-generasi yang akan datang harus menjadi acuan tetap dalam komunikasi dengan lingkungan hidup; Kelima, larangan keras untuk merusak, mengotori dan meracuni alam; Keenam, mengembangkan prinsip proporsionlitas dalam kegiatan pembangunan, dan Ketujuh, menerapkan prinsip pembebanan biaya bagi penyebab pencemaran dan pengerusakan lingkungan.

Empat belas Program Studi Strata 1 (S1) dan empat Program Studi Strata 2 (Magister) di Universitas Warmadewa mesti bisa mengawal dan menjadi pioner bagi implementasi nilai-nilai etika dan tanggung jawab terhadap lingkungan tersebut. Hanya dengan itu tanggung jawab sosial Universitas Warmadewa sebagai perguruan tinggi swasta yang berkomitmen pada persoalan lingkungan akan tampak dan berkontribusi nyata bagi upaya menjadikan tema lingkungan dalam pembangunan berkelanjutan yang sedang dan akan dilaksanakan.

  • 13 Januari 2015
  • Dibaca: 2394 Pengunjung

Artikel Lainnya

Cari Artikel