Serangkaian Dies Natalis ke-26 Universitas Warmadewa (Unwar), Selasa (7/9) kemarin menggelar seminar nasional bertema ”Reaktualisasi Tri Hita Karana (THK) dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup Menuju Bali yang Bersih dan Hijau”.
Seminar yang dibuka Rektor Unwar Prof. Made Sukarsa ini menghadirkan pembicara Prof. Wayan Runa, Prof. I Nyoman Nurjaya (Universitas Brawijaya), Prof. I Made Sudiana Mahendra (Unud) dan Kepala Beppeda Bali Drs. I Ketut Canang, M.Si.
Rektor Unwar Prof. Made Sukarsa mengatakan penambahan penduduk akan bersinggungan dengan daya dukung lingkungan, termasuk kemajuan pariwisata di Bali. ”Apakah kita terlambat mengkaji pariwisata budaya,” ujarnya.
Yang paling utama adalah bagaimana mengamankan masa depan Bali yang mataksu dari ancaman kerusakan lingkungan menuju masyarakat sejahtera sekala dan niskala. Di sinilah diperlukan pendekatan budaya dalam mengatasi kerusakan lingkungan. Karena konsep THK bagi krama Bali adalah kunci Bali mataksu.
Ia menegaskan pendekatan permintaan dengan ciri khas harus mencapai target yang akhirnya mengorbankan Bali, harus diubah menjadi pendekatan penawaran. Pola ini justru mengutamakan daya dukung.
Wayan Runa dan Nurjaya menyoroti disharmonis pembangunan di Bali dan daerah sebagai ancaman serius Bali yang mataksu. Ia mengatakan saat ini belum terwujudnya harmonisasi antara perencanaan pembangunan dengan penataan tata ruang, tak sinergisnya pembangunan di provinsi dan kabupaten serta tak kuatnya prinsip pembangunan berkelanjutan.
Ia menyebutkan terjadinya kasus pembangunan Vila Klating yang melanggar sempadan, pembangunan hotel di sempadan sungai, danau dan perambahan hutan. Bahkan melanggar bhisama kesucian pura. Inilah ancaman Bali yang mataksu.
Nyoman Nurajaya juga mengkritisi pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup di Bali lebih banyak berpihak pada pemodal besar, bersifat sentralistik dan bersifat sektoral. Sementara mekanisme transparansi dan partisipasi masyarakat tak diatur secara hakiki.
Made Sudiana Mahendra fokus pada jeleknya sanitasi lingkungan yang berpengaruh terhadap kualitas hidup masyarakat dan produktivitasnya. Makanya perilaku pola hidup konservatif perlu ditinggalkan.
Ketua Panitia Dr. Wayan Wesna Astara mengatakan seminar sehari ini diikuti 200 peserta dari pengamat lingkungan, dosen, mahasiswa dan siswa. Tujuannya melihat kondisi alam Bali saat ini, mengantisipasi perubahan iklim dan memberi masukan Bali yang bersih dan hijau. (025)