SOSOK I Wayan Runa (48) memberikan arti keteladanan bagi anak-anak desa yang kurang mampu. Betapa tidak, cita-cita setinggi langit yang bergantung dalam mimpi sekalipun bisa dicapai. Bagaimana tidak, perjalaan seorang anak desa yang berasal dari keluarga kurang mampu, membuktikan dirinya mampu meraih apa yang diimpikannya, yakni menjadi seorang guru besar dengan gelar profesor doktor, gelar yang juga diimpikan banyak cendekiawan kampus.
Saat dikukuhkan menjadi guru besar kedua Universitas Warmadewa Denpasar, Sabtu (28/8), oleh Rektor Unwar Prof. Dr. Ir. I Wayan Sukarsa, M.S. di kampus setempat, Prof. Runa menumpahkan etos perjuangannya sampai di puncak karier sebagai seorang guru besar dalam sebuah puisi berjudul ”Jejak Mimpi”. Ia tak sanggup menahan rasa haru mengenang 35 tahun perjalanan hidupnya untuk bisa mencapai mimpinya. Masa kanak-kanak dilaluinya di Desa Pesedahan, Manggis, Karangasem, menamatkan pendidikan SD dengan prestasi menonjol.
Bermodalkan sepeda Sim King milik kakaknya, I Wayan Runa melanjutkan ke SMP di Ulakan, Manggis. Selanjutnya, dengan perhitungan agar bisa cepat bekerja, ia melanjutkan ke STM Saraswati Denpasar jurusan bangunan. Tahun 1981 karena prestasinya di sekolah, sambil membantu kakaknya berjualan es di Denpasar, ia memberanikan diri kuliah, lulus diterima di Universitas Udayana Jurusan Teknik Arsitektur. Dengan susah payah ia berhasil menyelesaikan tahun 1986 dengan IP cukup membanggakan.
Selepas menempuh pendidikan S-1, Ir. I Wayan Runa melamar sebagai dosen dan ditugaskan di Universitas Warmadewa Denpasar. Ia juga sebagai Ketua Jurusan Teknik Arsitektur, Pembantu Dekan III. Pengabdiannya di Universitas Warmadewa membawanya lebih jauh menyelesaikan program S-2 dan S-3 di UGM Yogyakarta. Sejalan dengan spirit ilmu arsitekturnya, suami dari dosen Ni Made Jaya Senastri, S.H., M.H. (46) ini terlibat berbagai aktivitas spiritual bergabung dengan Yayasan Nusa Jaya (Nusantara Jaya) bergerak dalam bidang tempat suci di Jawa dan Bali sejak tahun 2005 sampai sekarang.
Petualangannya ke berbagai tempat suci berhasil menelorkan karya buku berjudul ”Candi Agung Gumuk Kancil”, petilasan Maha Rsi Agung Markandeya di Gunung Raung dan buku ”Tenganan Pageringsingan, Serial Desa-desa Kuno” dalam format penelitian. Orasi yang disampaikan saat pengukuhan berjudul ”Konservasi Tempat Suci Peninggalan Warmadewa di Bali” yang berkait dengan bidang penelitian, substansi tesis ”Variasi Perubahan Rumah Tinggal Desa Adat Tenganan Pageringsingan” dan disertasi berjudul ”Sistem Spasial Desa Pegunungan di Bali dalam Perspektif Sosial Budaya”.
Dalam orasinya, Prof. Dr. Ir. I Wayan Runa, M.T. mengatakan, Dinasti Warmadewa di Bali menurut prasasti Blanjong memerintah tahun 835 SM (913 M) di bawah kekuasaan Raja Cri Kesari Warmadewa degan permaisuri Tirta Ayuningrat Pramesti Dewi berlanjut hingga generasi pemegang tahta VI Dharma Udayana Warmadewa bersama permaisuri Gunapriya Dharmapatni (923 S – 933 S). Kebesaran Dinasti Warmadewa selama empat abad menurunkan raja-raja di Bali dan Jawa serta menyisakan banyak peninggalan arsitektur tempat suci. Menjaga spirit Dinasti Warmadewa adalah merupakan salah satu upaya menjaga jejak budaya fisik agar tidak lenyap dari apresiasi generasi mendatang. Di Bali tidak kurang 80-an tempat suci berkaitan Dinasti Warmadewa tersebar di sembilan penjuru kabupaten se-Bali. (r)