Strategi Pendidikan Unggul: Mempertimbangkan Kemajuan Teknologi Tinggi

“Saya sangat yakin bahwa prinsip-prinsip semesta itu sangat indah dan sederhana.” –Albert Einstein. Seorang anak TK usia 5 tahun dan adiknya yang 4 tahun mendekati bapaknya. ”Bapak, mau main komputer!” kata anak itu. Bapaknya sedang serius bekerja menggunakan laptopnya yang mungil. Sang Bapak yang sedang semangat bekerja tidak ingin berhenti bekerja. Di saat yang sama, ia tidak ingin memadamkan rasa ingin tahu anaknya untuk bermain – belajar – komputer. ”Gini saja,” kata Bapaknya,” kamu main komputer di warnet sebelah. Ini Bapak kasih uang 2 ribu rupiah untuk bayar rentalnya.” ”Asyik…asyik…asyik…” sahut dua anak itu bergembira.

Setengah jam berlalu, dua anak itu belum juga pulang. Bapaknya khawatir, apakah benar anak itu main ke warnet atau ke tempat lain. Akhirnya si bapak menyusul ke warnet. Benar juga, dua anak itu sedang main di depan komputer. “Lho…kalian bisa bermain internet?” tanya bapaknya heran. “Kan minta tolong diajarin Om yang jaga itu. Kata Om setengah jam main internetnya,” jawab si anak. Si bapak itu masih dengan rasa terkagum-kagum mengamati apa yang sedang dan telah dilakukan anaknya. Ternyata anaknya sedang memilih-milih gambar yang disukainya dengan bantuan internet. Anaknya memilih gambar Batman, Spiderman, dan Superman. Adiknya yang berusia 4 tahun, minta dicarikan gambar kupu-kupu, bunga, dan kucing.

Tidak usah tanggung-tanggung, pikir bapaknya. Sekalian saja ia akan mengajari anaknya memanfaatkan internet. Kemudian bapak itu mengajari anaknya menggunakan mesin pencari terhebat dunia: google.com. Bahkan akhirnya ia mengajari anaknya menggunakan google-earth: sebuah program untuk memotret bumi dari udara. Anak-anak itu sangat menyukai melihat foto udara menara Eifel, kota Jakarta, dan yang paling ia sukai adalah foto udara rumahnya sendiri. Lebih- lebih, ia sangat suka melihat foto udara rumahnya sendiri dari sudut pandang 3 dimensi. Foto udara 3 dimensi ini memberi kesan yang menakjubkan. Bila ia melihat foto udara rumahnya dari sisi selatan maka ia akan melihat di belakang rumahnya pemandangan gunung Tangkuban Perahu, dalam prespektif 3 dimensi.

Dalam kemajuan teknologi seperti sekarang ini mengetahui jawaban bukanlah menjadi yang paling penting. DR. Budi Rahardjo saat menghadiri pertemuan dengan para top eksekutif Indonesia menyatakan, ”Dulu kecerdasan seseorang diukur dari seberapa baik ia mampu menjawab pertanyaan. Sekarang kecerdasan seseorang lebih ditentukan dengan seberapa baik ia mengajukan pertanyaan.” Bila kita sudah memiliki pertanyaan yang berkualitas, untuk mencari jawaban sangat sederhana. Gunakan internet, google, wikipedia dan lain-lain. Teknologi itu akan memberi jawaban yang berlimpah dalam hitungan detik. Bahkan anak usia 5 tahun pun dapat menemukan jawaban bila ia mampu menggunakan teknologi internet.

DR. Dimitri Mahayana, rekan seperjuangan Budi Rahardjo, bahkan melangkah lebih jauh. Ia mendirikan sebuah forum bernama Sharing Vision. Sharing Vision ini memberi visi ke depan tentang teknologi informasi dan telekomunikasi kepada para top eksekutif Indonesia. Dari forum ini para pakar dan eksekutif saling bertanya saling berbagi pengalaman, dan saling memberikan jawaban yang berkualitas. Hasilnya? Luar biasanya! Banyak perusahaan dapat melakukan penghematan ratusan juta rupiah setelah mengikuti Sharing Vision atau menciptakan terobosan baru untuk memajukan perusahaan.

Tetapi biaya teknologi tinggi sangat mahal bagi pendidikan Indonesia. Untuk saat ini memang mahal. Tetapi trend ke depan, harga teknologi internet semakin murah – bahkan mungkin saja gratis. Misalnya, awal 2008 ini saya menikmati internet gratis dari operator AXIS. Dengan batas pemakaian 100 Mb, saya memanfaatkan internet gratis itu dengan puas.

Pertengahan tahun 2008, AXIS tidak memberi layanan internet gratis lagi. Meski demikian, AXIS menawarkan layanan internet dengan tarif sangat murah: 0,1 rupiah / Kb. Dengan tarif ini, para siswa – termasuk saya – dapat memakai internet puas hanya dengan biaya seribu atau dua ribu rupiah saja.

Satu hal yang perlu kita ingat adalah harga internet akan semakin murah. Saat ini, akses internet di warnet biasaya sekitar Rp 4.000,- per jam. Dua atau tiga tahun ke depan harga akses internet akan turun menjadi sekitar Rp 1.000,- per jam atau lebih murah lagi. Bukankah ini sangat menjanjikan?

Jika kita siap dengan strategi pendidikan yang tepat di dunia maya internet maka kemajuan internet akan membawa pendidikan kita akan lebih maju. Tetapi bila kita tidak bersiap-siap maka kemajuan internet justru akan meluluh-lantakkan dunia pendidikan kita. Mari kita merenung sejenak!

Bagaimana dengan dunia pendidikan kita?
Bagaimana dengan anak-anak didik kita?
Apakah anak didik kita memanfaatkan teknologi internet dengan baik?
Bukankah internet sering hanya digunakan untuk main game?
Bahkan internet sering digunakan untuk pornografi?

Teknologi, bagaimana pun, adalah semacam pedang. Ia dapat membantu kita memotong kayu. Tapi dapat juga memotong tangan kita. Hanya saja teknologi berbeda dengan pedang. Pedang dapat kita simpan dari jangkauan anak-anak kita. Tetapi teknologi informasi dan telekomunikasi ada di mana-mana. Kita tidak dapat menyembunyikannya dari anak-anak kita. Cepat atau lambat anak-anak kita akan menemukannya.

Dunia pendidikan kita sedang dalam kondisi kritis. Ditambah lagi situasi politik yang tidak selalu mendukung kemajuan pendidikan. Kendala biaya juga menghalangi dunia pendidikan kita untuk berkembang. Kesejahteraan guru? Kita juga sama-sama tahu betapa terpuruknya. Kondisi ini ditambah dengan kondisi-kondisi lain di Indonesia, menempatkan dunia pendidikan kita pada kondisi kritis. Untungnya, menurut Prof. Yohanes Surya, kondisi kritis akan mengantar kita ke MESTAKUNG: seMESTA menduKUNG. Akankah dunia pendidikan kita mengalami ”tipping point” melenting ke depan? Mungkin saja! Mengapa tidak?

Prof. Yohanes Surya telah membuktikannya. Ia bersama-sama dengan putra-putri Indonesia telah melenting ke depan dengan berhasil menjadi Juara Dunia Olimpiade Fisika Internasional di Singapura tahun 2006. Apa rahasianya?

Jangan kaget! Rahasia itu semua ternyata berfokus pada satu kata: MESTAKUNG. Istilah ini diambil dari konsep dasar fisika, bahwa ketika sesuatu dalam kondisi kritis maka setiap partikel di sekelilingnya akan bekerja serentak demi mencapai titik ideal.

Bagaimana pendapat Anda?
Semoga bermanfaat…Salam hangat…
(angger: agus Nggermanto; Pendiri APIQ)

Tags:

About webmaster